Petunjuk Nabi Saw Untuk Mengobati Keracunan Seperti Yang Beliau Alami Di Khaibar Dari Wanita Yahudi

Petunjuk Nabi Saw Untuk Mengobati Keracunan Seperti Yang Beliau Alami Di Khaibar Dari Wanita Yahudi

Abdu Ar-Razzaq menyebutkan dari Ma’mar, dari Az-Zuhri, dari Abdurrahman bin Ka’ab bin Malik: bahwa seorang wanita Yahudi menghadiahkan seekor kambing yang sudah dimasak di Khaibar kepada Nabi Saw. Beliau bertanya, “Apa ini?[1]” Wanita itu menjawab, “Hadiah.” Wanita itu khawatir kalau mengatakan ‘ini sedekah’, beliau tidak akan memakannya. Maka Rasulullah Saw menyantap sebagian daging tersebut. Para sahabat juga ikut menyantapnya. Namun kemudian beliau bersabda, “Hentikan!” Lalu beliau bertanya kepada wanita tersebut, “Apakah engkau membubuhi racun didaging ini?” Wanita itu balik bertanya, “Siapa yang memberitahukanmu tentang hal itu?” Beliau menjawab, “Tulang ini”. Beliau menunjuk ke kaki kambing yang masih berada ditangannya. Wanita itu mengaku, “Memang demikian.” Beliau bertanya lagi, “Mengapa engkau lakukan itu?” Wanita itu menjawab, “Aku ingin, jika engkau berdusta, maka orang-orang akan enyah darimu. Tetapi, jika engkau benar-benar seorang Nabi, makanan itu tidak membahayakanmu.” Akhirnya Raslullah Saw meminta dibekam pada bagian pundaknya ditiga titik, dan memerintahkan para sahabat untuk berbekam juga. Namun sebagian diantara mereka meninggal dunia.”

Dari jalur lain disebutkan, “Rasulullah Saw berbekam pada pundaknya untuk menghilangkan pengaruh racun dari daging domba yang beliau makan. Yang melakukan bekamnya adalah Abu Hind dengan menggunakan tanduk dan pisau. Ia adalah mantan budak dari Bani Bayadhah, dari kalangan Al-Anshar. Setelah kejadian ini, beliau masih hidup hingga tiga tahun berikutnya, sampai akhirnya beliau wafat setelah menderita sakit yang membawa kepada kematian beliau. Beliau pernah berkata, “Aku masih merasakan pengaruh akibat[2] makanan yang pernah kusantap dari daging kambing Khaibar. Sehingga [3] inilah saatnya usiaku berakhir.” Lalu Rasulullah Saw wafat sebagai syahid.”

Musa bin Uqbah menyatakan, “Terapi akibat racun adalah dengan cara memaksa keluar zat beracun dalam tubuh dengan menggunakan anti toksin (penawar racun), bisa jadi secara aktif atau reaktif. Bila tidak ditemukan obatnya, segera lakukan pembersihan racun secara menyeluruh. [4] Yang terbaik dalam hal ini adalah pembekaman. Terutama sekali dinegara-negara yang bersuhu panas dan cuaca juga sedang panas. Sesungguhnya energi racun itu bisa menyelusup ke dalam darah, lalu mengalir dalam pembuluh darah dan urat tubuh hingga mencapai jantung, sehingga menyebabkan kematian. Darah adalah pintu masuk bagi racun menuju jantung dan organ-organ tubuh lainnya. Kalau orang yang keracunan itu mau menanganinya dengan mengeluarkan darah tersebut dengan segera, maka zat racun yang tercampur dalam darah itu pun akan bisa ikut keluar. Kalau ‘pemaksaan keluar’ itu bisa sempurna, racun tersebut tidak akan membahayakan. Bisa tersingkirkan, atau paling tidak energinya berkurang sehingga kondisi tubuh menjadi kuat. Reaksinya akan hilang atau berkurang.

Ketika Nabi Saw berbekam pada bagian bahu yang merupakan lokasi terdekat ke jantung yang mungkin dibekam, maka zat beracun dalam darah itu pun keluar. Tidak seluruhnya memang, karena sisanya masih mengendap meskipun sudah melemah reaksinya, sesuai dengan takdir yang dikehendaki oleh Allah untuk menyempurnakan seluruh tangga keutamaan pada diri beliau.

Saat Allah sudah menghendaki untuk memberi kemuliaan mati syahid kepada beliau, bekas dari racun yang tersembunyi dari racun tersebut pun mulai tampak untuk merealisasikan takdir-Nya. Tampaklah rahasia dari firman Allah kepada musuh-musuhNya dari kalangan Yahudi:

Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; maka beberapa orang (diantara mereka) kamu telah dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh …” (Al-Baqarah: 87)

Dalam ayat itu Allah menyebutkan, “kamu telah dustakan,” yakni dengan kata kerja bentuk lampau, berarti sudah terjadi, dan pasti terjadi. Namun dalam lanjutan ayat Allah menyebutkan, “… kamu bunuh …” dengan bentuk kata kerja mudhari’, yakni karena itulah yang mereka tunggu dan nanti-nantikan. Wallahu a’alm.

[1] Dalam Zadul Ma’ad disebutkan dengan lafazh muannats (hadzihi), “Maka Rasulullah langsung menyantapnya …”

[2] Dalam Zadul Ma’ad hal. 103 disebutkan, “… dari,” bukan ‘akibat’.

[3] Dalam Zadul Ma’ad disebutkan, “Seolah-olah …” Yang jelas, itu adalah kesalahan redaksional. Lihat Al-Fathul Kabir III: 93.

[4] Keracunan makanan atau terkena racun biasanya ditandai dengan muntah secara berulang-ulang. Diantara kiat terpenting mengatasinya adalah dengan ‘cuci perut’ dari zat racun bersangkutan. Hal itu amat mudah dilakukan, yakni dengan cara mengonsumsi air hangat dalam jumlah banyak yang dicampuri garam dapur, lalu setelah itu dimuntahkan. Cara itu diulangi hingga beberapa kali sehingga air yang sudah diminum itu keluar semua. Dengan cara itu perut akan bersih dari zat beracun tersebut. Setelah itu baru diminumkan obat pencahar untuk mengeluarkan zat beracun yang masih mengendap.

untuk menambah berat badan gunakan madu penggemuk badan

Related Post

Share

Comments are closed.