Petunjuk Nabi Saw Dalam Mengobati Penyakit Dengan Obat-Obatan Dan Makanan

Petunjuk Nabi Saw Dalam Mengobati Penyakit Dengan Obat-Obatan Dan Makanan

Petunjuk Nabi Saw Dalam Mengobati Penyakit Dengan Obat-Obatan Dan Makanan Yang Terbiasa Dikonsumsi, Tidak Sebaliknya

Ini termasuk formula medis yang penting dan paling bermanfaat. Kalau seorang tenaga medis melakukan kesalahan dalam hal ini, akan membahayakan si sakit tanpa dia sadari, meskipun ia mengira akan berguna bagi pasien. Si dokter tidak boleh menggunakan alternatif obat lain dari buku standar ilmu kedokteran. Yang melakukan itu hanyalah seorang dokter yang tidak bijak. Karena, relevansi obat dan makanan terhadap tubuh pasien tergantung pula dengan kebiasaan dan kesiapan tubuhnya menerima obat dan makanan tersebut. Masyarakat badui, pesisir dan yang lainnya tidak merasakan manjurnya obat seperti Le Neuvar, air mawar segar atau yang sudah dimasak,[1] karena secara alami memang obat-obat itu tidak berpengaruh pada tubuh mereka. Bahkan, kebanyakan obat-obatan penduduk kota dan orang-orang yang biasa hidup makmur tidak bermanfaat buat mereka. Hal itu terbukti secara nyata.

Siapa saja yang mencermati apa yang kami sebutkan-yakni tentang terapi ala Nabi-pasti akan melihat semuanya relevan dengan kebiasaan setiap pasien dengan negeri asalnya serta lingkungan dimana ia tumbuh. Ini merupakan formula penting berkaitan dengan dasar-dasar pengobatan yang harus dicermati. Kalangan ahli medis terkemuka telah secara tegas menyatakan demikian. Bahkan seorang tabib Arab, malah mungkin tebib terbaik bangsa Arab Harits bin Kaladah, tak ubahnya seperti Hippocrates ditengah bangsanya, menegaskan, “Pencegahan adalah inti pengobata. Lambung adalah rumah penyakit. Biasakanlah tubuh itu mengonsumsi yang biasa dikonsumsinya.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Puasa adalah obat.” Yang dimaksud dengan puasa disini adalah menahan diri untuk tidak makan, yakni lapar. Puasa merupakan pengobatan terbaik dalam penyembuhan penyakit lambung, bahkan lebih baik dari terapi melalui obat pencahar kalau kondisi lambung tidak terlalu penuh, tidak terlalu banyak campuran zat makanan yang saling berlawanan sehingga menimbulkan gejolak.

Arti “Lambung adalah rumah penyakit” yakni bahwa lambung itu adalah organ tubuh yang mengandung saraf, memiliki rongga menyerupai buah labu; terdiri dari dua lapisan yang tersusun dari tulang muda kecil sekali berisi saraf yang disebut ‘iga’ lalu dilapisi oleh daging dan babat. Salah satu lapisannya panjang dan lapisan lain lebar sementara lapisan ketiga berupa organ asli.[2] Mulut lambung lebih menyerupai saraf, sementara dasarnya lebih didominasi daging, bagian dalamnya mengandung semacam fiber. Letak lambung terkurung ditengah perut namunlebih condong ke kanan sedikit. Lambung memang diciptakan seperti itu karena suatu alasan yang amat mendalam dari Allah Yang Maha Mencipta dan Mahabijaksana. Lambung itu adalah rumah penyakit selain dikenal sebagai organ pencernaan dan metabolisme pertama. Diorgan inilah semua makanan diproses menjadi matang, baru kemudian disalurkan ke lever dan usus. Dari lambung, masih tersisa ampas makanan yang belum bisa dicerna secara sempurna. Bisa jadi karena unsur gizi yang terlalu banyak, atau karena kualitas makanan  yang buruk, atau karena cara makan yang tidak teratur. Bisa juga karena seluruh factor tersebut yang tergabung menjadi satu. Sebagian diantara faktor tersebut seringkali tidak bisa dihindarkan oleh manusia sehingga lambung betul-betul menjadi rumah penyakit. Seolah-olah ini merupakan anjuran agar mengurangi makanan, mencegegah nafsu dari syahwat, serta memlihara tubuh dari kelebihan serat yang tidak berguna.

Miliki juga madu penggemuk badan

Adapun secara hukum kebiasaan, karena kebiasaan itu ibarat tabiat bagi manusia. Oleh sebab itu dikatakan: kebiasaan adalah watak kedua. Kebiasaan berpengaruh besar pada tubuh. Sehingga satu orang saja bila dianalogikan dengan beberapa bentuk tubuh dengan beberapa macam kebiasaan, tentu orientasinya juga berbeda-beda. Meskipun misalnya tubuh-tubuh itu memiliki kesamaan pada sebagian hal. Contohnya adalah tiga jenis tubuh yang memiliki metabolisme panas dimasa remaja. Yang pertama, terbiasa mengonsumsi makanan-makanan yang panas. Yang kedua, (terbiasa mengonsusmsi makanan-makanan dingin. Yang ketiga, terbiasa mengonsumsi)[3] makanan-makanan yang bersuhu sedang. Tubuh pertama, bila mengonsumsi madu misalnya, tidak berpengaruh buruk. Tubuh kedua, bila mengonsumsi madu mungkin mengalami gangguan.[4] Sementara tubuh ketiga, bila mengonsumsi madu, hanya sedikit mengalami gangguan. Kebiasaan adalah pilar penting dalam menjaga kesehatan dan juga menyembuhkan penyakit. Oleh sebab itu, terapi kenabian ini dihadirkan sebagai bagian dari kebiasaan itu, dalam pemanfaatan makanan dan obat-obatan atau yang lainnya.

[1] Dalam Zadul Ma’ad hal. 101 disebutkan, “… yang mendidih …” Yang tepat bahwa kalimat itu kesalahan redaksional. Lihat Al-Mishbah.

[2] Dalam Zadul Ma’ad terdapat kesalahan redaksional, yaitu: bil wiraabi, sedangkan dalam naskah asli: warab.

[3] Ini tambahan yang memang harus ada dari Zadul Ma’ad hal. 102.

[4] Demikian dalam Zadul Ma’ad. Sedangkan dalam naskah asli disebutkan: kedua (tanpa kata ‘dan’).

Related Post

Share

Comments are closed.