Petunjuk Nabi Saw Dalam Mengatasi Makanan Yang Kejatuhan Lalat

Petunjuk Nabi Saw Dalam Mengatasi Makanan Yang Kejatuhan Lalat

Dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw bersabda:

Apabila ada seekor lalat jatuh dibejana seorang diantara kalian, tenggelamkanlah. Karena pada salah satu sayapnya terdapat penyakit dan pada sayap yang lain terdapat obatnya.” [1]

Dalam Sunan Ibnu Majah dari Abu Said Al-Khudri diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda:

Salah satu sayap lalat itu adalah racun, sementara yang lainnya adalah obat. Maka, apabila seekor lalat jatuh dalam makanan, tenggelamkanlah. Karena ia mendahulukan racun dan mengakhirkan obatnya.” [2]

Hadits ini mengandung dua hal: Pertama persoalan fiqih dan kedua persolan medis. Persolan fiqih dalam hadits merupakan dalil yang jelas sekali bahwa apabila seekor lalat mati dalam air atau benda cair sejenis, tidaklah menyebabkan air itu menjadi najis. Itu adalah pendapat mayoritas ulama. Tidak ada seorang pun diantara ulama As-Salaf yang menentang hal itu.

Sumber dalilnya adalah bahwa Rasulullah memerintahkan agar lalat itu ditenggelamkan, yakni dimasukkan dalam makanan atau air. Padahal sebagaimana dimaklumi, dengan cara itu lalat tersebut akan mati, terutama sekali apabila air tersebut panas. Kalau karena hal tersebut air menjadi najis, maka itu merupakan nash bahwa makanan atau minuman menjadi rusak. Namun, ternyata Rasulullah memberikan cara mengatasinya. Hukum ini bahkan menjangkau[3] kepada setiap hewan yang tidak mengalir darahnya, seperti lebah, kumbang, laba-laba, dan sejenisnya. Karena, hukum itu berputar pada alasannya yang bersifat umum, hilang bila alasan tersebut hilang. Karena najis itu berasal dari daerah hewan yang mendekam dalam tubuhnya saat mati, dan ternyata itu tidak berlaku untuk binatang yang tidak mengalir darahnya, maka hukum najis[4] itu pun tidak berlaku lagi karena alasan najisnya tidak ada.

Mereka yang berpendapat bahwa tulang bangkai itu tidak najis menyatakan: Kalau hukum itu (tidak najis) berlaku pada binatang yang utuh yang jelas mengandung unsur kelembaban, mengandung kotoran dan bagian tubuh yang lunak, maka hukum itu lebih layak berlaku pada binatang bertulang yang jelas tidak mengandung kelembaban, kotoran dan endapan darah sama sekali. Pendapat ini amat kuat dan layak dijadikan sandaran.

Orang yang dikenal pertama kali dalam islam yang membicarakan persoalan binatang yang tidak mengalir darahnya ini (maa laa nafsa lahu sa’ilah) adalah Ibrahim An-Nakha’i. dari beliaulah ulama memperoleh ilmu tentang persoalan ini. Nafs dalam bahasa Arab bisa juga diartikan sebagai ‘darah’. Seperti wanita yang mengalami haid disebut juga nifas, yakni mengeluarkan darah. Demikian juga wanita yang baru melahirkan, disebut nifas.

Sementara pengertian medis dalam hadits diatas dijelaskan oleh Abu Ubaid, “Arti menenggelamkan lalat disini adalah membenamkan lalat tersebut agar keluar penawar yang terkandung ditubuhnya setelah mengeluarkan penyakit. Kata malaq artinya adalah tenggelam, seperti dua orang lelaki itu melakukan malaq, artinya saling menyelam dalam air.

Harus diketahui bahwa lalat itu menurut mereka adalah sebuah energi beracun diindikasikan dengan munculnya pembengkakan dan rasa gatal akibat sengatannya. Tak ubahnya seperti senjata. Kalau terjerumus dalam sesuatu yang membahyakannya, maka ia melindungi diri dengan senjatanya itu. Oleh karenanya, Nabi memerintahkan agar energi lalat yang beracun itu dihadapi dengan senjata yang Allah ciptakan pada sebelah sayapnya yang lain. Maka lalat itu pun ditenggelamkan dalam makanan atau minuman agar zat beracun itu teradaptasi dengan zat yang bermanfaat sehingga hilanglah bahayanya. Formula medis ini tidak mampu diselami oleh banyak pakar medis yang ada. Karena memang bersumber dari lentera kenabian. Meski demikian, seorang ahli pengobatan yang bijak dan mendapatkan taufiq dari Allah pasti akan tunduk melakukan terapi ini dan mengakui manusia yang mengajarkan metode ini sebagai manusia yang paling sempurna, karena ia ditopang oleh wahyu ilahiyah, diluar kemampuan manusia biasa.

Tidak hanya satu ahli kedokteran yang telah menyebutkan bahwa sengatan kumbang atau kalajengking bila digosokkan pada tempat yang disengat lalat juga akan bermanfaat sekali, setidaknya dapat meredakannya, tidak lain karena unsur penawar (anti toksin) yang terdapat dalam lalat. Bahkan, bila bengkak pada ujung bulu mata yang disebut ‘bintitan’ setelah terlebih dahulu kepada lalat itu dipotong, dapat menyembuhkannya.

[1] Dikeluarkan oleh Al-Bukhari namun tidak dikeluarkan oleh Muslim sebagimana ditegaskan oleh Al-Hafizh dalam Al-Fath. Dikeluarkan oleh Abu Daud, Ibnu Majah, Ahmad, Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi.

[2] Dikeluarkan pula oleh An-Nasa’i, Ahmad, Al-Hakim dan Al-Baihaqi.

[3] Yakni melampaui jenis binatang lalat saja. Lihat Zadul Ma’ad hal. 99.

[4] Demikian disebutkan dalam Zadul Ma’ad dan itu yang lebih tepat, sedangkan dalam kitab asli dengan menggunakan huruf “fii”.

 

Kunjungi juga: Toko herbal Online

Related Post

Share

Comments are closed.