Petunjuk Nabi Saw Dalam Memberi Makan Orang Sakit Dengan Menghidangkan Makanan Paling Lembut Yang Biasa Dimakan

Petunjuk Nabi Saw Dalam Memberi Makan Orang Sakit Dengan Menghidangkan Makanan Paling Lembut Yang Biasa Dimakan

Time for breakfast for a young girl

Dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim, [1] dari hadits Urwah, dari Aisyah diriwayatkan bahwa apabila ada salah seorang keluarganya yang meninggal dunia, kaum wanita berkumpul, kemudian bubar kecuali keluarga mereka dan orang-orang yang dekat dengan mereka. Setelah itu Aisyah memerintahkan disiapkan gulai daging. Lalu dibuatkan sejenis bubur gandum dan dicampurkan dengan gulaai daging yang sudah dimasak tersebut. Baru kemudian Aisyah berkata, “Makanlah. Karena aku pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Bubur daging ini dapat menentramkan hati pasien dan menghilangkan kesedihannya.” [2]

Sementara dalam Sunan Abu Daud disebutkan dari hadits Aisyah pula bahwa Rasulullah Saw bersabda:

Hendaknya kalian mengonsumsi makanan yang mungkin kurang enak tetapi bermanfaat, yakni bubur gulai daging.” [3]

Aisyah melanjutkan, “Bila ada orang sakit dari kalangan keluarganya, Rasulullah tetap membiarkan gulai berada diatas tungku hingga berakhir pada salah satu ujungnya,” yakni sembuh atau meninggal dunia.

Masih dari Aisyah, diriwayatkan bahwa apabila Rasulullah diberi tahu bahwa ada orang yang sakit dan tidak mau makan, beliau berkata, “Hendaknya kalian buatkan bubur daging, lalu suapkan kepadanya.” Beliau bersabda, “Demi Zat yang jiwaku ada diTangan-Nya, sesungguhnya makanan itu bisa membersihkan perut salah seorang diantara kalian sebagaimana salah seorang diantara kalian memberishkan wajah dari kotoran.” [4]

Kata talbin (gulai daging) sendiri adalah sejenis gulai yang lembut, setara dengan susu lemak. Al-Harawi menandaskan bahwa gulai ini disebut talbin karena serupa dengan laban (susu), putih dan lembut. Makanan ini amat bermanfaat bagi orang sakit, lembut dan masak benar, tidak kental dan mentah. Kalau kita mau mengetahui khasiat dari gulai daging ini, cukup kita ketahui khasiat dari sari gandum. Bahkan makanan ini lebih berkhasiat dari sekadar sari gandum, karena sudah berwujud gulai yang dibuat dari tepung gandum yang ditumbuk dengan kulitnya. Perbedaannya dengan sari gandum adalah bahwa sari gandum diperas dari gandum mentah sementara makanan ini dimasak dari tepung gandum. Khasiatnya jelas lebih terasa karena gandum yang sudah ditumbuk halus.

Tidak dijelaskan sebelumnya bahwa kebiasaan itu memiliki pengaruh dalam pemanfaatan makanan dan obat-obatan. Kebiasaan bangsa Arab ketika itu memang menggunakan sari gandum yang sudah ditumbuk, atau dari gandum yang masih mentah. Nilai gizinya lebih tinggi, reaksinya lebih cepat dan daya pembersihnya lebih kuat. Memang kebanyakan kalangan medis modern memprosesnya dari gandum mentah, sehingga menjadi lebih encer dan lebih lembut, tidak sulit ditelan oleh kondisi orang sakit. Namun itu tergantung pada kebiasaan penduduk kota dan kemakmurannya, tergantung juga dengan kadar kekentalan dari sari gandum yang sudah ditumbuk.

Maksudnya bahwa sari gandum itu dapat dicerna secara cepat, dapat memberishkan lambung dan merupakan makanan bergizi yang lembut. Kalau diminum dalam keadaan panas, daya pembersihnya lebih kuat dan reaksinya lebih cepat, bahkan bisa meningkatkan panas tubuh alami secara lebih maksimal, selain juga bisa lebih menyentuh dasar lambung.

Arti sabda Nabi Saw, “… menentramkan hati pasien …” ada dua riwayat tentang lafal hadits ini. Artinya sama, bahwa makanan ini ‘menentramkan’ hati pasien. Karena kata ijmaam artinya adalah ketentraman.

Arti ucapan beliau, “… bisa menghilangkan sebagian kesedihan,” karena rasa duka dan kesedihan dapat mendinginkan kondisi kejiwaan, melemahkan panas tubuh yang alami, karena kecendrungan jiwa yang menuntut demikian didalam hati, sebagian tempat kesedihan. Gulai daging itu ternyata bisa memperkuat[5] temperatur panas alami dalam tubuh dengan menstimulator suhu tersebut sehingga bisa melenyapkan banyak unsur negatif yang menghinggapi tubuh, termasuk perasaan duka dan kesedihan.

Ada juga pendapat-dan ini yang lebih tepat-bahwa gulai daging itu dapat menghilangkan sebgaian kesedihan dengan khasiat yang terkandung didalamnya sebagai salah satu dari jenis makanan yang berkhasiat ‘menentramkan’. Karena memang ada makanan yang berkhasiat dapat memberikan kegembiraan. Wallahu a’lam.

Ada juga pendapat bahwa stamina orang yang sedang berduka itu melemah karena dominasi keputusasaan diseluruh organ tubuhnya, bahkan secara khusus pada bagian lambungnya akibat semakin sedikitnya porsi makan. Gulai daging inilah yang berfungsi memberi kelembaban pada tubuh, memperkuat dan menambah suntikan gizi. Reaksi itu juga menembus hati orang yang sakit. Akan tetapi seringkali banyak unsur campuran empedu, kotoran bahkan juga nanah dalam lambung orang sakit. Gulai ini juga berfungsi membersihkan lambung, mencuci, melicinkan[6] dan mencairkan unsur-unsur jahat tersebut. Disamping juga menstabilkannya, meleburkan unsur-unsur keras dan menyehatkannya. Terutama sekali bagi mereka yang terbiasa mengonsusmsi roti gandum kasar. Itu kebiasaan penduduk Al-Madinah pada masa itu. Roti gandum kasar adalah makanan pokok nomer satu. Karena gandum halus masih amat jarang mereka dapatkan. Wallahu a’lam.

Baca juga madu penggemuk Badan

 

[1]Dalam naskah asli disebutkan, “Shahih Muslim.” Teks berikut sesuai dengan kalimat yang ada dalam Shahih Al-Bukhari VII: 75, dan juga Shahih Muslim VII: 26 cet. Turki. Sementara lafal yang ada dalam Zadul Ma’ad  “Shahih Al-Bukhari dan Muslim”, “… maka mereka berkumpul … kepada keluarga mereka, lalu Aisyah memerintahkan mereka membuat gulai daging dan membuat bubur gandum, lalu gulai itu dituangkan ke dalam bubur tersebut. Kemudian Aisyah berkata, “Makanlah ….” Lihat Shahih Al-Bukhari VII/124.

[2]Dikeluarkan pula oleh Al-Bukhari, At-Tirmidzi dan An-Nasa’I serta Ahmad.

[3] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, An-Nasa’I, Ibnu Majah, Ahmad dan Al-Hakim.

[4] Dikeluarkan oleh At-Tirmidzi, An-Nasa’I, Ahmad, dan Al-Hakim

[5] Dalam Zadul Ma’ad disebutkan, “… sebagai penguat …” hal. 103.

[6] Dalam Zadul Ma’ad disebutkan, “Menutupi dan mencegahnya.”

Related Post

Share

Comments are closed.